makalah tauhid tentang ru'yah
I.
,PENDAHULUAN
Ru’yah menurut bahasa berarti,”Annazar
bil aini au bil-qalbi”(melihat dengan mata atau dengan hati). Ru’yatullah
berarti melihat Allah dengan penglihatan mata atau penglihatan hati. Kemudian
timbulnya suatu pertanyaan, Apakah Allah dapat dilihat ? bisakah itu terjadi ?
Kalau bisa dimanakah ? . Mengenai Ru’yat (melihat
Tuhan dengan mata-kepala sendiri) ini banyak menimbulkan perdebatan di kalangan
Madzhab Kalam. Karena ru’yat ini sangat berkaitan erat dengan ke-jism-an
Tuhan dan keterbatasan Tuhan.
Di
sini akan dibahas perdebatan dalam empat aliran Madzhab Kalam, yaitu
Mu’tazilah, Al-Asy‘ariyah, Al-Ma’turidiyah dan Syi’ah. Yang mana keempat
madzhab itulah yang selalu berdebat tentang hal apapun, seperti tentang sifat
Tuhan, Kalam Tuhan, Melihat Tuhan (Ru’yatullah), dll.
Dalam
memperdebatkan tentang ru’yat ini, keempat Mazdhab Kalam ini memakai
alasan-alasan Syara’ dan akal pikiran. Adapun dalil-dalil yang bersumber
dari al-Qur’an maupun al-Hadits yang menjadi tolak ukur keempat mazdhab
ini adalah:
1.
Q.S.
al-An’am: 103
“Dia
tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang
kelihatan………”
Tuhan itu tidak dapat diliputi mata-kepala, akan tetapi Dia
meliputi mata-kepala.
2.
Q.S.
al-A’raf: 143
“……………..berkatalah
Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat
kepada Engkau.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku,
tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala)
niscaya kamu dapat melihat-Ku.” Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung
itu[565], dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh
pingsan…………”
Tuhan tidak dapat dilihat.
3.
Q.S.
al-Qiyamah: 22-23
“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu
berseri-seri.” (22)
“Kepada Tuhannyalah mereka melihat. “ (23)
Makna “Nadzhirah”: melihat atau menanti?
4.
Hadits
Nabi Muhammad saw yang dikutip oleh al-Maghribi.[1]
“Kelak
pada hari kiamat, kalian akan melihat (ru’yah) Tuhan kalian, seperti
kalian melihat bulan pada malam purnama .
Untuk itu perlu
kiranya kami membahas permasalahan ini agar kita umat islam mempunyai ‘aqidah
yang lurus berdasarkan pemahaman tentang ru’yah.
II.
PERMASALAHAN
1.
Masalah ru’yah
a.
Bagaimanakah arti ru’yah menurut pemikiran
Mu’tazilah ?
b.
Bagaimanakah arti ru’yah menurut pmeikiran
Al Asy’ariyah ?
c.
Bagaimanakah arti ru’yah menurut pemikiran
Al Maturidiah ?
d.
Bagaimanakah arti ru’yah menurut pemikiran
Ibnu Rusyd ?
2.
Bagaimanakah kritik terhadap pemikiran
ulama kalam tentang ru’yah ?
III.
PEMBAHASAN
1.
Masalah ru’yah (
Melihat Tuhan dengan Mata Kepala )
A.
Menurut Mu’tazilah
Mu’tazilah mengingkari ru’yah karena mereka selalu
berpegang teguh pada prinsip dan pikiran yang logis. Mereka mengingkari pula
kejisiman tuhan, dan kemudian mengingkari arah serta tentunya mengingkari
ru’yah.
Aliran Mu’tazilah ini sangat
mengagungkan akal, mereka itu adalah aliran yang menganut pikiran yang logis.[2]
Karena itu mereka menilai tentang ru’yat ini lebih dominan kepada akal.
Menurut aliran ini, jika berbicara tentang melihat (ru’yat) pasti ada
objek yang dilihat, dan dalam konteks ini adalah melihat Tuhan. Menurut logis
mereka, jika Tuhan dapat dilihat, berarti Tuhan itu mempunyai batas, dan
dibatasi oleh ruang dan waktu.
Selain Tuhan dibatasi oleh
ruang dan waktu, aliran ini juga menyatakan jika Tuhan itu dapat dilihat dengan
mata-kepala, berarti Tuhan itu materi, karena yang dapat dilihat oleh
mata-kepala itu adalah benda (jism), jika dianalogikan seperti itu maka
berarti men-jism-kan Tuhan.
Alasan-Alasan Akal Pikiran
a.
Apabila Allah bukan jisim, ia
beranak, sehingga tidak dapat diliahat oleh manusia. Sesuatu yang dilihat harus
ada pada arah tertentu dari orang yang melihat, tegasnya ru’yah hanya dapat
terjadi atas benda.
b.
Sesuatu yang dapat dilihat,
memerlukan syarat-syarat antara lain yang dilihat berwarna dan bersinar, hak
tersebut tidak mungkin pada Allah.[3]
Alasan-Alasan Syara’
Dalam Q.S. al-A’raf: 143,
menurut Mu’tazilah bahwa yang meminta untuk melihat Tuhan itu adalah bukan Nabi
Musa sendiri, akan tetapi para pengikutnya yang keras kepala tidak mempercayai
Tuhan. Di dalam ayat tersebut juga disebutkan kata “lan tarani” yaitu,
“sekali-kali kamu tidak akan dapat melihat Aku”, maka jelas di dalam al-Qur’an
tertera bahwa Tuhan itu memang tidak dapat dilihat.
Ada juga ayat lain yang
berlawanan dengan kedua ayat tersebut, yaitu Q.S. al-Qiyamah, yang
mengisyaratkan ru’yat. Akan tetapi menurut Mu’tazilah ayat ini termasuk mutasyabihat,
yaitu ayat-ayat yang harus ditakwil. Dalam ayat ini ada kata “nadzhirah”.
Nah, kata “nadzhirah” ini tidak bisa diartikan dengan langsung atau
sesuai dengan arti katanya dalam bahasa Arab, akan tetapi dengan ditakwilkan
terlebih dahulu. Jika diartikan secara langsung atau sesuai dengan arti katanya
yaitu melihat, akan tetapi jika diartikan secara takwil maka artinya menurut
Mu’tazilah adalah menunggu menanti rahmat-Nya.
Mengenai hadits Nabi yang
tersebut di pendahuluan, menurut Mu’tazilah hadits tersebut termasuk hadits Ahad,
yaitu hadits perseorangan, sehingga tidak bisa dijadikan dalil dalam menilah
sebuah kepercayaan. Alasan lain Mu’tazilah menolak hadits ini adalah Tuhan itu
tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, tidak menyinarkan cahaya seperti bulan
purnama. Dan juga hadits ini bertentangan dengan Q.S. al-An’am: 103 dan Q.S.
al-A’raf: 143 yang menafikan ru’yat. Yang mungkin menurut Mu’tazilah
adalah melihat Tuhan dengan mata-hati, yaitu dengan menambah pengetahuan
tentang Tuhan.[4]
B.
Al -Asy’ariyah
Mengenai masalah ru’yat Allah, kaum Asy’ariyah
meyakini bahwa kelak Allah akan bisa dilihat di hari kebangkitan dengan mata
kepala manusia. Mereka mengungkapkan keyakinan mereka dengan alasan-alasan akal
juga dengan dalil-dalil syara’.
Alasan akal pemikiran
Alasan melalui akal pemikiran ini dijelaskan oleh salah satu
tokoh Asy’ariyah, yakni al-Ghazali. Al-Ghazali menerangkan bahwa objek
pengelihatan itu tidak harus ada pada arah tertentu bagi subjek yang melihat,
seperti halnya melihat refleksi benda pada cermin.Tokoh yang lain adalah Al
Juwaini mengatakan bahwa sesuatu dapat dilihat mata karena adanya benda
dan segi warnanya.
Namun kedua hipotesa tersebut tidak benar karena sesuatu
dapat dilihat mata karena ia berada, karena Allah ada, maka ia dapat dilihat.[5]
Alasan-alasan syara’
Keyakinan kaum Asy’ariyah bahwa Allah kelak di akhirat bisa
dilihat dengan mata bersandarkan pada ayat al-Quran dalam surat al-Qiyamah ayat
22 hingga 23.
(٢٢) إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ (٢٣)
وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ بَاسِرَةٌ
”Wajah-wajah
(orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Memandang Tuhannya”
Mereka
meyakini bahwa kata nazhir dalam ayat ini berarti melihat. Karena kata nazhir
dalam ayat ini dibarengi oleh kata wujuh, maka mereka meyakini bahwa
artinya adalah melihat.
Kaum
Asy’ariyah menanggapi mengenai dalil surat al-An’am yang digunakan oleh kaum
Mu’tazilah sebagai dasar Tuhan itu tidak bisa dilihat dengan menyatakan bahwa,
tidak bisa dilihat dalam ayat ini bermaksudkan tidak bisa dilihat ketika di
dunia, namun ketika di akhirat Tuhan bisa dilihat dengan mata.
C.
Al- Maturidi
Ia berpendapat bahwa ru’yah akan terjadi
dan sudah disepakati ahli Sunnah. Ru’yah tidak mungkin dapat dilihat dengan
mata kepala tetapi dengan hati atau fikiran. Sehingga tidak mungkin menimbulkan
kejisiman Allah. Ru’yah terjadi tanpa bagaimana dan dimana.
Alasan syara’ ialah surat Al An’am (103)
yang dijadikan dasar penolakan aliran Mu’tazilah. Dan pemikiranya sama dengan pemikiran
Asyariah.
Ru’yat dalam pandangan
al-Ma’turidiyah hampir sama dengan pandangan al-Asy’ariyah, yaitu Tuhan dapat
dilihat di akhirat kelak. Akan tetapi yang membedakan pemikiran aliran ini
dengan al-Asy’ariyah adalah Tuhan dapat dilihat di akhirat nanti akan tetapi
tidak pasti dengan menggunakan mata-kepala, menurut al-Ma’turidiyah melihat (ru’yat)
Tuhan itu termasuk peristiwa hari kiamat. Ru’yat itu sudah pasti terjadi
pada hari kiamat, dan untuk melihat itu hanya Allah yang mengetahui bagaimana
caranya.
Seorang tokoh al-Ma’turidiyah yang bernama al-Bazdawi memberikan
argumen tentang melihat (ru’yat) Tuhan, yaitu segala sesuatu yang
mempunyai wujud itu dapat dilihat, dan Tuhan itu mempunyai wujud, meskipun
Tuhan itu tidak dibatasi ruang dan waktu.
Al-Ma’turidiyah juga menentang pendapatnya salah satu tokoh lagi
yaitu al-Ka’bi yang mengartikan bahwa Tuhan itu tidak dapat dilihat. Dalam
pendapatnya al-Ka’bi itu menunujukan bahwa dia men-jism-kan Tuhan,
karena itu ia tidak mengakui dapat melihat dengan mata-kepala. Tanggapan
al-Ma’turidiyah tentang pendapatnya al-Ka’bi ini adalah bahwa al-Ka’bi ini
menyamakan melihat Tuhan dengan melihat makhluk.
D.
Ibnu
Rusyd
Terdapat perbedaan pandangan tentang melihat Allah (al-Ru’yah),
golongan Mu’tazilah menyatakan bahwa penglihatan manusia tidak dapat menjangkau
dhat Allah, dengan alasan bahwa aktifitas melihat membutuhkan media yaitu arah
yang memposisikan obyek dihadapan subyek. Dengan demikian, pendapat mereka
masih pararel dengan masalah sebelumnya, yaitu menafikan sifat fisikal pada
Allah. Sedangkan golongan Ash’ariyah mencoba memadukan antara penafian sifat
fisikal dengan kemungkinan melihat dengan tanpa indera, bagi mereka,
argumentasi golongan Mu’tazilah hanya berlaku dalam alam realitas saja, tidak
dalam alam ghaib, sebab dimungkinkan nagi manusia melihat dengan daya
penglihatan selain dari mata.
Sedangkan pandangan Ibn Rushd dalam masalah ini adalah
seperti tampak pada sikapnya untuk tidak menyamaratakan tingkat kemampuan
berfikir manusia terpelajar dengan orang awam. Kepada awam cukuplah
dikatakan sesuai dengan yang tersurat tanpa menjelaskan lebih lanjut,
sebab mereka hanya dapat memahami hal-hal yang dialami dan tepikirkan,
sedangkan kepada kaum terpelajar menurutnya persoalan itu tidak bisa dinyatakan
secara tegas, karena peristiwanya baru akan terjadi diakhirat, sebagaimana
tidak ada pernyataan tegas dari wahyu tentang penafian dan penetapan sifat
fisikal pada Allah.[6]
2.
Kritik terhadap pemikiran ulama kalam
tentang ru’yah
Al- Qur’an adalah kitab allah yang diwahyukan kepada nabi
Muhammad untuk menjadi petunjuk dan bimbingan bagi umat manusia seluruhnya,
didalamnya terdapat berbagai tuntutan dan ajaran yang apabila ditaati dengan
baik, manusia akan memperoleh kebahagiaan didunia dan akhirat. Diantara ajaran
al-Qur’an yang penting adalah seruan dan himbauan kepada seluruh umat manusia
untuk menyembah hanya kepada allah, tidak menduakannya dengan suatu apapun,
dalam hal ini al-Qur’an dengan berbagai ayatnya mengajak manusia mempergunakan
akalnya untuk mengamati dan merenungkan segala peristiwa yang terjadi dalam
dunia ini, bahkan juga bukti-bukti yang kuat dan meyakinkan tentang adanya Allah
yang maha esa, pencipta alam semesta. Selain
itu qur’an juga menjelaskan bahwa allah mempunyai sifat-sifat atau nama-nama
yang maha baik (al-asmaul-husnah), melalui sifat sifat ini, kita dapat
mengetahui corak hubungan antara allah sebagai Al kholik dengan alam dan
manusia sebagai makhluk. Alquran dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada suatu
jua pun dari makhluk ini yang dapat ,menyamai-Nya, baik dzat dan sifatNya.
Walaupun Manusia diberi qodrat bahwa akal dan pikirannya
menjadi pokok bagi kehidupan didunia, hal tersebut menggerakan ruh dan naluri
untuk merasakan kehidupan yang baka dan abadi, merasakan keadaan bila sampai
kesana, bagaimana jalan dan cara mendapat petunjuk tentang itu sedang barang
itu sesuatu yang gaib .Point yang harus dimengerti mengapa al-Quran saja tidak
menyinggung tentang ru’yah, karena itu adalah sesuatu yang musykil untuk dimengerti oleh akal manusia yang sangat
singkat, karena itu juga tidak ada manfaatnya bagi manusia dalam kehidupan
amaliyahnya.
Dengan itu lah para
rasul diutus untuk membimbing akal manusia untuk mengenal allah dan
sifat-sifatnya, memberikan batas-batas tertentu dimana orang wajib berhenti dalam
menggali pengetahuan tuhan guna menentramkan hati serta tidak menyia-nyiakan
kekuatan akal yang diberikan allah pada makhluk ciptaannya.
IV.
KESIMPULAN
Dari pembahasan singkat di atas dapat disimpulkan bahwa
Al-Asy’ariyah dan al-Ma’turidiyah meyakini bahwa Tuhan bisa dilihat di hari
akhir kelak. Perbedaan dari keduanya, Al-Asy’ariyah menyatakan dengan tegas
bahwa Tuhan bisa dilihat dengan mata-kepala. Sedangkan Al-Ma’turidiyah
menyatakan bahwa Tuhan itu bisa dilihat akan tetapi hanya Tuhan yang menengetahui
cara untuk melihat-Nya.
Selain kedua aliran di atas juga terdapat aliran Mu’tazilah
yang menentang kedua aliran tersebut. Menurut Mu’tazilah Tuhan itu tidak bisa
dilihat dengan mata-kepala, karena jika bisa dilihat dengan mata-mata kepala
berarti itu men-jism-kan Tuhan dan itu mustahil bagi Tuhan. Juga
terdapat pemikiran dari Ibnu Rusyd yang menolak pemikiran Al Asy’ariyah. Ia
berpendapat bahwa sesuatu dapat dilihat
karena ia berupa benda yang berwarna.
V.
PENUTUP
Demikian makalah
ini kami susun. Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Karena
segala kekurangan milik hambany-Nya, dan kelebihan hanya milik Allah SWT. Oleh
karena itu kami mohon kepada para pembaca untuk bersedia memberikan kritik dan
saran demi kesempurnaan makalah kami ini maupun kedepanya. Semoga makalah kami
dapat memberikan pemahaman dan bermanfaat untuk semua pihak. Amin…
DAFTAR PUSTAKA
[1]
Dr. K. H. Noer Iskandar Al-Barsany
MA, Pemikiran Kalam Imam Abu Mansur Al-Maturidi, (Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 2001), hal: 45-46
[2]
Ahmad Hanafi, Teologi Islam (Ilmu Kalam), (Jakarta:
Bulan Bintang, 2001), hal: 150
[3]
Drs. A. Ghofir Romas,ilmu
tauhid,(semarang: Badan penerbit fakultas dakwah IAIN Walisongo Semarang)
hal. 42-43
[4] http://milahiday.wordpress.com
[5]
Ibid 3
[6]
http://greenmasa.blogspot.com/2012/09/filsafat-ketuhanan-ibn-rushd_22.html
Komentar
Posting Komentar