HARAP


Aku, Kamu dan Harapanku

Aku tak pernah mengerti arti dari tatapan mata itu. Dan aku tak pernah mau untuk menerjemahkannya. Sesekali saja aku bisa memahaminya. Itu pun ketika semua tak lagi tiada

Bait-bait keheningan rasamu terbawa angin hingga ia hinggap di hatiku. Aku diketuknya. Sampai terjaga. Jelaga mataku menyoroti apa yang ada. Memang ternyata kita sama.

Aku tidak pernah mau tahu soal kita. Soal rasa yang hampir saja muncul ke permukaan. Soal angan, cita, kebersamaan aku masih belum mau berakrab dengan itu semua. Sebab kutahu itu masih sebatas harapan.

Harapan yang kugantung di ke dua telapak tangan. Yang aku kirim kepada Tuhan di berbagai amalan.

Takdir masih belum menampakkan wujudnya. Dan aku tak pernah ingin untuk mendahuluinya. Meski doaku mengarah kesana. Meski pintaku selalu soal yang sama. Meski hati dan pikiran menyibukkanku dengannya.

Kamu bukan milikku. Aku paham benar soal itu. Maka aku memintamu bukan darimu. Tapi dari Tuhan yang menciptakanmu. Dari Tuhan yang menciptakan wujudmu. Dari Tuhan yang memperbaiki sikapmu.

Dan pada akhirnya aku berharap. Semoga engkau juga begitu.

-Ummu Rumman

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JADILAH PENYAYANG ⚘

Karakter Ruh Seseorang